Categories
Agribisnis

Naikkan Produksi dengan Hara Si

Peran unsur silikon (Si) dalam pertumbuhan tanaman belum banyak diperhatikan, baik oleh para ahli, pemerintah, maupun petani. Tanpa Si, tanaman masih bisa tumbuh. Tapi sebenar nya fungsi hara yang biasanya tersedia da lam bentuk SiO2(silika) ini penting bagi ta naman suku Gramineae, terutama padi dan tebu.

Fungsi Penting

Menurut Dr. Husnain, M.P., M.Sc., silika berperan dalam pembentukan dinding sel tanaman, memperkokoh pertumbuhan tanaman sehingga tumbuh tegak dan dapat menangkap sinar matahari untuk proses fotosintesis yang optimal.

Di samping itu, Si juga memperkuat ketahanan batang dan daun terhadap serangan hama penyakit dan sebagai penyeimbang unsur hara lain, seperti fosfat dan trace element yang menjadi racun. Si pun berperan dalam mengefisienkan penggunaan air bagi tanaman “Tanaman padi kalau diberi silika, tumbuhnya tegak, nggak gampang rebah.

Tumbuhnya bagus, uptake (menyerap) sinar matahari. Insect (serangga hama) dan penyakit yang menyerang akan berkurang sehingga risikonya lebih rendah daripada yang nggak punya silika,” ungkap Uut, sapaan Kepala Balai Penelitian Tanah, itu, kepada AGRINA. Kandungan kritis Si pada padi adalah 7,5%.

“Di bawah nilai tersebut tanaman sangat rentan terhadap serangan OPT (organisme pengganggu tumbuhan) dan penurunan kualitas gabah,” imbuh alumnus S1 Universitas Andalas, Padang, ini. Sependapat dengan Uut, Bambang Widjajanto pun menyatakan, Si termasuk salah satu unsur yang dibutuhkan padi.

“Pembentukan sekam butuh silika. Jerami butuh silika. Jadi, kalau kekurangan silika, padi tidak dapat berproduksi dengan baik karena kebutuhannya sama dengan total N, P, dan K,” papar Direktur Pengem bangan Bisnis PT Rabana Agro Resources, distributor produk agrokimia di Jakarta, ini.

Uut menyebut, kebutuhan Si pada padi sebanyak 300-500 kg/ha dalam bentuk SiO2 tersedia atau siap serap. Dosis ini tanpa jerami dan diaplikasikan setahun sekali. Namun kalau jerami dikembalikan ke lahan setelah dikomposkan terlebih dulu, dosis Si bisa dikurangi sepertiga sampai separuhnya.

Mengapa Terabaikan?

Sampai hari ini kebanyakan orang meng anggap pemupukan Si tidak perlu. Toh, banyak terdapat di tanah. “Lahan kita memang tinggi total silikanya, tapi ketersediaannya rendah. Dalam kondisi penanam an normal, maksudnya tidak dieksploitasi seperti sekarang, (sampai tiga kali tanam), itu cukup. Tapi kalau jerami tidak kembali ke lahan, sumber silikanya dari mana lagi?” ulas Uut.

Jadi, lanjut alumnus Tottori University, Jepang, tersebut, lahan yang ditanami pa di secara intensif hingga tiga kali seta hun dan jeraminya tidak dikembalikan ke lahan, seperti di Karawang, Jabar, perlu aplikasi silika. Pun di tanah-tanah masam yang berpH kurang dari 6,5seperti di Se rang, Banten, unsur Si-nya banyak tercuci sehingga jumlahnya tidak mencukupi.

Demikian pula tanah-tanah tua sejenis Ul tisol, Oksisol, dan Alluvial yang mengarah ke pantai miskin Si, jadi perlu ditambahkan. Pada kesempatan berbeda, Bambang membuktikan, aplikasi pupuk Si di lahan dekat gunung Merapi, Magelang, yang kaya akan silika pun tetap diperlukan. “Ternyata di sana masih bisa menaikkan produksi 20%.

Artinya Si di sana belum tersedia,” tandas jebolan Jurusan Agronomi, Faperta IPB angkatan 18 ini. Lebih jauh dia menerangkan, silika bisa diaplikasikan dalam bentuk cair melalui daun dan bentuk serbuk lewat tanah. Si diserap tanaman dalam bentuk H2SiO4. Perbedaannya, silika lewat daun tidak ber fungsi seperti yang di tanah.

Sementara Si yang melalui tanah, sebelum bekerja di tanaman, bereaksi dulu memperbaiki struk tur tanah, melepas hara P yang se mu la terikat sehingga bisa diserap akar tanaman. Mengapa bisa begitu? Si menggantikan P yang terikat oleh Al, Fe, Mn karena ionnya lebih kuat. Al yang terlalu banyak dalam tanah bikin pH rendah dan bisa meracuni tanaman.

“Setelah dua minggu aplikasi Si, per kembangan akar lebih bagus, lebih panjang, akar serabut lebih banyak. Efek ini membuat akar mengambil unsur hara jauh lebih efektif. Di dalam tanaman Si membantu translokasi unsur hara merata ke seluruh bagian tanaman. Akibatnya per tumbuhan tanaman lebih seragam. Pengisian bulir juga lebih banyak,” jelas Bambang panjang lebar.

Selain itu, sambung dia, tanaman padi yang diaplikasi Si dari daun dan tanah, daun dan batangnya terlindungi seperti dilaminating. Wajar bila ketahanan terhadap serangan hama dan penyakit, terutama blas, lebih tinggi. Yoyo Suparyo, petani senior di Pamanukan, Subang, membuktikan manfaat tersebut pada tanaman padinya musim tanam yang lalu.

“Daya tahannya lebih kuat terhadap blas dan wereng meskipun saya juga tetap menggunakan insektisida antiwe reng. Yang jelas, maintenance-nya jadi lebih ringan,” ungkapnya. Pengalaman Yoyo tersebut diperkuat hasil uji coba Uut di lapangan. “Khusus untuk ketahanan terhadap blas sudah valid, ba nyak risetnya. Di Lampung juga saya coba dua musim, blasnya berkurang 50%. Pa da percobaan sengaja kita nggak kasih pestisida,” katanya.

Dari Mana Sumbernya?

Menurut Uut, sumber silika selain dari air irigasi, ada dua macam, yaitu dari bahan organik dan limbah industri. Bahan organik sumber silika mencakup jerami, sekam, limbah tanaman tebu, dan janjang kosong sawit.

Semua bahan ini hendaknya dikomposkan dulu baru diberikan ke tanaman agar kandungan silika dan juga kalium bisa diserap tanaman. Sementara yang dari industri adalah limbah batubara, yaitu abu terbang (fly ash) dan abu di bagian bawah (bottom ash). Fly ash lebih disarankan karena berbentuk ser buk sehingga mudah digunakan.

Apa lagi kadar Si-nya mencapai 30% dan kan dungan kalsiumnya juga tinggi. Sedang kan bottom ash masih berbentuk bongkahan. Selain itu limbah industri baja (terak baja) juga layak digunakan lantaran kandung an kalsium dan silikanya tinggi, mencapai 40%. Namun, lanjut Uut, peman faatan ini menghadapi kendala pengangkutannya dari lokasi lantaran termasuk B3 (ba han beracun, berbahaya).

Perlu izin Ke men terian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk mengeluarkan limbah tersebut dari pabrik. Sementara Bambang mengintroduksi pupuk silika dari Kolombia. Produk pupuk ini diklaimnya mengandung Si yang reaktif, kalsium, dan magnesium. Dengan dosis 100 kg/ha, ia menyakinkan, produksi padi meningkat rata-rata 20%.

Aplikasinya lebih baik bersama pupuk dasar atau paling lambat berbarengan pemupukan pertama, umur 1-2 minggu setelah tanam. Sebagai salah satu cara meningkatkan poduksi padi, pemupukan Si lebih strategis ketimbang pembukaan lahan baru. Siapa tertarik?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *