Categories
Agribisnis

Teknologi Italia untuk Kemakmuran Dunia

Filosofi Italia sangat bagus. “Bagaimana mereka (Italia) memberikan anggaran mereka, supaya pertanian dunia itu modern. Italia berpikir untuk kemakmuran dunia. Kalau dunia makmur, maka produk-produk Italia akan laku di pasar,” kata Susno Duadji, Chairman Grup Aldeos, salah satu anggota delegasi dari Indonesia yang datang ke Eima Agrimach, 7-9 Desember 2017 di India.

Pameran alat dan mesin pertanian di kampus Indian Agricultural Research Institute (IARI), Pusa, New Delhi, ini terselenggara berkat kerjasama Federation of Indian Chambers of Commerce and In dustry (FICCI) dan FederUnacoma (Italian Agri cultural Machinery Manufac turers Federation). Sebanyak 300 perusahaan traktor, pema nenan (combine harvester), mesin pengolah lahan, sistem irigasi, pompa, komponen, aksesori, dan suku cadang memamerkan keunggulannya di Eima Agrimach yang ke-5 itu.

“Kami membawa teknologi ke seluruh petani di dunia untuk memperbaiki hasil dan nilai mereka melalui efisien si berkat mekanisasi,” kata Maurizio Martina, Menteri Pertanian Italia, pada pidato pembukaan pameran alat dan mesin pertanian itu, Kamis, 7 Desember 2017. Selama tiga hari, pameran ini dikunjungi sekitar 42 ribu orang petani dan pelaku agroindustri, meningkat empat persen ketimbang pameran di tempat yang sama dua tahun lalu.

Sekitar 6.000 dari pengunjung tersebut berasal dari 40 negara. “Pameran berbagai produk ini untuk petani dan pebisnis pertanian,” ujar Alessandro Malavolti, Presiden FederUna coma, pada pameran tersebut. Italian Trade Agency (ITA) dan FederUnacoma mendatangkan delegasi bisnis internasional untuk mengadakan pertemuan bisnis dengan perwakilan eksibitor (termasuk 40 perusahaan dari Italia yang ikut berpameran).

Para pebisnis dan wartawan yang didatangkan antara lain dari Sri Lanka, Indonesia, Bangladesh, Kamboja, Filipina, Malaysia, Myanmar, Thailand, dan Vietnam. Memang India menjadi salah satu pintu bagi teknologi pertanian Italia guna memenuhi kebutuhan alat dan mesin pertanian (alsintan), bukan hanya untuk India, tetapi juga pasar Asia lainnya seperti Pakistan, Indonesia, Vietnam, dan Filipina. Italia dan India melihat pembangunan pertanian di Asia, terutama di Indonesia, se makin kuat pada tahun-tahun mendatang.

Banyak perusahaan Italia yang membangun pabrik di India. Misalnya AMA, BCS, New Holland, Orlikon Graziano, ADR, Bondioli & Pavesi, Carraro Group, CBM, Mashio-Gaspardo, Lombardini-Kohler, Ogniben Power, Safim, Serigrafia 76, Comer Industries, Walvoil, dan Same D.F. Mel alui kerjasama pembangunan pabrik tersebut, terjadi alih teknologi dari Italia ke India. Pasar alsintan di India memang sangat besar. Misalnya traktor. Dari 1,9 juta pen jualan traktor global 2016, menurut Agrievolution, penjualan traktor di India mencapai 570 ribu unit (sekitar 30% penjualan di dunia), sedangkan China 420 ribu unit.

Bandingkan penjualan traktor di seluruh Eropa yang hanya mencapai 160 ribu unit dan Amerika Serikat 211 ribu unit. Menurut Shri Gajendra Singh Shekhawat, sekitar 80% kepemilikan lahan pertanian di India berskala kecil dan marjinal, di bawah 2 ha per petani. “Untuk meningkatkan hasil, mengurangi biaya, dan meng hindari biaya modal yang besar, diperlukan sewa alat dan mesin pertanian.

Kita perlu traktorisasi untuk memperbaiki produktivitas tanaman dan menempatkan sektor pertanian India di peta dunia,” kata Deputi Menteri Pertanian India itu. India yakin, melalui mekanisasi petani mereka dapat meningkatkan produktivitas dan menekan biaya pertanian. Tidak heran kalau penjualan alat dan mesin pertanian di India cukup tinggi.

Selain penjualan traktor, tahun lalu penjualan threshers (perontok padi atau pemipil jagung) di India mencapai 100 ribu unit, penjualan combine harvester sekitar 4 juta unit, dan mesin kultivator 50 ribu unit. Tahun lalu, nilai penjualan alsintan di India mencapai US$8,8 miliar (setara Rp 119 triliun). Pada 2022, diperkirakan nilai penjual annya mencapai US$12,5 miliar (setara Rp 169 triliun).

India merupakan produsen traktor terbesar di dunia dan menyumbang sekitar sepertiga dari produksi traktor di dunia. “India dan Italia saling membantu dan meleng kapi untuk memperkuat sektor alat dan mesin per tanian ke depannya,” ulas Martina pada pameran tersebut. Menurut Shri Sekhawat, beberapa tahun terakhir alsintan dari India banyak yang masuk ke pasar internasional.

“Saya katakan, India eksportir kuat alsintan dengan pertumbuhan rata-rata 6,2% per tahun selama empat tahun terakhir. Sekarang ada 180 pembeli dari 40 negara ke Eima Agrimach 2017 yang tentunya akan memberikan pengaruh yang besar untuk pasar internasional untuk alat dan mesin pertanian India,” papar Shri Sekhawat.

Dari Temu Bisnis

Ada empat pengusaha Indonesia yang datang ke Eima Agrimach ke-5 ini, yaitu Susno Duadji (Chairman Grup Aldeos), Edwin Anthony (Direktur PT Sri Tulin Indojaya), Sutrisno (Direktur PT Mitra Atedaselaras), dan Jonny Sinaga (PT Karya Mitra Usaha).

Mereka antara lain bertemu Federico Aldrovandi, Sales Departement Idrome ccanica Bertolini S.p.A, Reggio Emilia, Italia, dan Si mone Rigon, Business Deve lopment Manager Udor, S.p.A, Italia. Ke duanya produsen pompa. “Pompa kami sangat berkualitas, terbuat dari bahanbahan yang bermutu.

Produk kami bisa untuk pengairan dan pemu puk an,” promosi Ald rovandi. “Kami mempunyai peng alaman yang banyak di teknologi pemompaan untuk pertanian, industri, industri kelautan, minyak dan gas serta kebun buah. Kualitas produk kami bagus. Kami bisa kirim sesuai pesanan,” papar Rigon. Dari pertemuan bisnis tersebut, menurut Susno, perusahaan Italia memandang Indonesia sebagai pasar yang bagus.

Tapi sayangnya, kata mantan Kabareskrim Polri itu, mereka belum mempunyai agen atau distributor di Indonesia. “Udor beberapa puluh tahun beroperasi. Banyak orang Indonesia yang makai, tapi hanya sebagai importir. Padahal produk mereka bagus,” lanjut Susno. Teknologi alsintan Italia memang bagus dan sudah lebih maju.

“Teknologi ini harus untuk pertanian di Indonesia. Sebagai produsen alat dan mesin pertanian, teknologi dari Italia ini bagus. Yang kita pakai sekarang di Indonesia teknologi sederhana yang gampang rusak. Yang dari Italia ini sudah teruji,” tandas Jonny. “Kalau dari segi kualitas, produk-produk Italia sangat bagus. Misalnya pompa. Dengan ukuran kecil, tapi tekanannya besar. Sekilas da ri harga, ma sih persoalan di In donesia,” ko mentar Sutrisno.

Tapi, pameran ini bagus untuk mengubah pikir an petani di In donesia. “Untuk menjadi petani modern perlu menggunakan alat dan mesin pertanian agar efektif dan efisien,” tambahnya. Ada yang menarik didapat Jonny dari pame ran ini. Orang Jepang membeli mesin tanam padi untuk padi gogo dari Italia. “Jepang sudah me mikirkan untuk me nanam padi gogo (di ladang),” cetusnya.

Dengan menanam padi gogo, tidak perlu repot-repot membangun bendungan, saluran irigasi, dan lainlain yang investasinya sangat ma hal. “Jepang mena nam padi gogo. Se karang air susah, me ngapa tidak menanam padi di lahan kering saja?” ucap Jonny terinspirasi.

Dukungan Pemerintah

Dari segi komersial, menurut Yaniman Lani, kualitas alsintan Italia nomor satu di dunia. “Mereka (pemerintah Italia) memberikan re search fund ke Agri cultural Institute itu tinggi sekali. Mereka juga memberikan beasiswa kepada mahasiswa yang belajar di pertanian dan peralatannya,” kata Senior Trade Analyst Italian Trade Agency, Jakarta, di ajang Eima Agrimach, itu.

Menteri Pembangunan Pertanian Italia memberikan insentif kepada pengusaha Indonesia yang bergerak di sektor alat dan mesin pertanian. “Tugas kita mengeducate, ini lho produk Italia. Kita memperkenalkan teknologi pertanian Italia kepada teman-teman kita di Indonesia. Secara tidak langsung mempromosikan bahwa yang pas untuk pertanian itu adal ah produk Italia,” katanya.

Untuk membangun pabrik di Indonesia, menurut Alessandro Malavolti, Presiden FederUnacoma, harus secara bertahap. “Nanti mungkin jualan dulu. Kalau laku baru bikin assemblydulu. Kalau nggak gitu kita rugi,” tu turnya ketika berbincang dengan tim delegasi Indonesia, di stan Italia.

Pemerintah In donesia dan DPR, menurut Susno, perlu mendukung al sintan dari Italia seperti yang dilakukan India. “Kita berpikir, ba gai mana mening kat kan produk perta ni an Indonesia. Tidak ada jalan lain kecuali dengan mesinisasi modern,” kata Susno. Kemudian,

“Kita berpikir, bagai ma na memproduksi alat dan mesin pertanian di Indo nesia (dengan tek nologi Italia) de ngan merek kita sendiri. Komponen alat dan mesinnya tidak harus semua dari Indo nesia. Yang kita buat itu sistemnya. Mesinnya bisa saja dari Ya maha, Honda, atau dari Italia. Tapi komponen lain sudah ada buatan Klaten atau Surabaya. De ngan produksi sendiri, yang tadinya mengimpor, why not kita mengekspor alat dan mesin pertanian,” ujarnya bersemangat.

“Italia kita ambil sebagai model. Kalau orang bilang kita tidak mampu, siapa bilang? Kita saja bisa bikin pesawat terbang. Kalau kita gabungkan produk-produk Italia, Turki, dan China, maka China akan kalah. Sekarang bagaimana memberikan kesempatan kepada anak bangsa untuk mendirikan pabrik (alat dan mesin pertanian) melalui alih teknologi dari Italia,” papar Susno.

Visinya, suatu saat Indonesia menjadi produsen alat dan mesin pertanian, bukan saja untuk pasar Indonesia, tapi juga Asia. “Kalau Italia sudah berpikir meningkatkan produktivitas pertanian dunia, kita berpikir bagaimana meningkatkan produktivitas pertanian di Indonesia,” pungkas bapak yang sekarang juga bertani padi di Lahat, Sumsel ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *