Categories
Uncategorized

Manajemen Pakan yang Tepat Membuat Udang Tumbuh Sehat

Agar budidaya udang sukses, Joko Sasongko, Ketua Shrimp Club Indonesi (SCI) Jabar-Banten memastikan benur sehat dan siap tebar sejak awal dengan membuat bak aklimatisasi benur. “Aklimatisasi itu proses adaptasi benur ke air kolam. Selama ini benur di hatchery terkontrol dari suhu, salinitas, dan airnya juga steril. Dari suasana terkontrol menjadi suasana yang berubah sesuai iklim di lapang, harus ada adaptasi perlahan,” ujar petambak di Ujung Genteng, Sukabumi, Jabar itu. Kondisi bak aklimatisasi ini dibuat serupa bak pembenihan (hatchery) udang, yaitu dengan mengisi air dari hatchery dan ditambahkan air mengalir.

Setelah 2-4 jam dan terlihat benur mau makan serta sudah mulai aktif, benur siap dipindahkan ke kolam budidaya. “Kalau aklimatisasinya salah, (benur) langsung dimasukkan ke kolam, akhirnya dia rentan kena penyakit,” imbuhnya. Kemudian, Joko menggunakan teknologi semiflok selama proses budidaya. “Kita sekarang mengadopsi keseimbangan lingkungan antara plankton dan bakteri atau semiflok. Jadi saat matahari tidak ada, bakteri bekerja. Saat matahari muncul, bakteri sedikit bekerja dan lebih banyak plankton bekerja,” jelasnya. Sebab, budidaya udang sangat terpengaruh kondisi cuaca. Saat cuaca ekstrem, plankton di kolam budidaya blooming (membludak) saat panas terik. Ketika cuaca tiba-tiba mendung, plankton langsung drop. “Menumbuhkan plankton ‘kan nggak seharidua hari, perlu waktu. Plankton ini ada pengaruh ke lingkungan kolam. Bila plankton drop, pasti ada masalah di kolam, baik itu udang stres maupun penyakit. Ujungnya kematian,” sambung dia.

Sistem Terbuka

Sementara, Agusri Syarif, perintis tambak udang superintensif di Pesisir Barat, Lampung dan Kaur, Bengkulu mengatakan, teknik budidaya yang ia lakukan di Bengkulu adalah sistem terbuka dengan tambak dilapisi plastik high density polyethylene (HDPE). Artinya, sepanjang budidaya dilakukan ganti air tanpa tandon alias langsung disedot dari laut karena mutu airnya belum tercemar. Ia tidak menggunakan kapur, baik saat persiapan maupun budidaya, tetapi, mengaplikasikan probiotik dosis tinggi hingga 6 ppm. “Padat tebarnya 200- 300 ekor/m2 dengan kedalaman air 1,8-2 m,” ungkap pria yang berpengalaman budidaya udang selama 30 tahun itu.

Paramater air, seperti oksigen terlarut (dissolved oxygen, DO), pH, kecerahan, dan suhu, dicek dua kali sehari pada pagi dan sore atau malam hari. Data para meter air ini sangat berguna untuk melihat fluktuasi nya. Fluktuasi itu harus ditekan seminimal mungkin agar udang tidak stres dan mudah terserang penyakit. Sedangkan air buangan diolah dengan instalasi pengolahan limbah (IPAL). Jika air laut tetap bersih, sistem budidaya terbuka dapat dipertahankan sehingga bisa menekan biaya produksi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *